Supaya Website Tidak Terbengkalai Setelah Capek-capek Dibuat, Apa yang Harus Dipersiapkan?

Website

Sebelum membuat website, apa yang Anda PERTAMA KALI pikirkan?

“Saya mau buat website seperti apa ya?”

“Seperti apa desain & tampilan yang menarik?”

“Apa ya fitur-fitur yang akan bermanfaat bagi pengunjung?”

“Di mana hosting dan domain yang murah tapi bagus?”

“Pakai WordPress atau Magento ya?”

Berdasarkan pengalaman saya menjadi web consultant & developer freelance beberapa tahun terakhir ini, 80% website klien tidak diurus lagi setelah selesai dibuat. Setahun setelah website dibuat, saya mengunjunginya lagi, dan taraaa, persis 100% plek sama dengan saat saya serah terimakan dulu. Investasi jutaan rupiah terbuang begitu saja.

Well, blame me. Dulu saya belum punya kemampuan untuk menganalisis dan mengukur performa website, sehingga sebelum memulai membuat website, saya hanya bertanya, “bapak mau membuat website seperti apa?”

Bila waktu bisa diulang kembali, saya akan memulai dengan pertanyaan, “apa tujuan/objektif Bapak membuat website ini?” 

Kemudian saya akan lanjutkan dengan pertanyaan, “menurut bapak, apa indikator sukses dan return on investment dari website ini?”

Jika dua pertanyaan ini bisa mereka jawab, website mereka akan terus diurus dan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan bisnisnya. Jika website belum mencapai target indikator yang telah ditetapkan, bagian tertentu dari website perlu diubah dan dioptimalkan.

Apa saja tujuan/objektif dari setiap website?

Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan bisnis yang berbeda-beda. Website, sebagai salah satu aset atau tools, jelas harus mendukung tujuan utama dari bisnis tersebut, jangan hanya jadi pajangan. Sayang bro, sudah keluar duit jutaan buat bikin website eh jadi pajangan doang.

Kita ambil contoh misalnya sebuah perusahaan pendidikan atau sekolah di bidang desain grafis, animasi, dan film. Tentu tujuan bisnisnya adalah mendapatkan murid sebanyak-banyaknya.

Apakah “mendapatkan murid” bisa dijadikan tujuan websitenya? Ternyata tidak bisa. Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan memilih sekolah. Memilih sekolah bukan impulse buying, sehingga mereka tidak bisa mengandalkan penjualan langsung di website layaknya toko online.

Yang dibutuhkan adalah daftar prospek yang tertarik dengan sekolah tersebut, untuk kemudian di-follow up dan diyakinkan oleh tim sales agar mendaftar menjadi murid di sana. Berarti tujuan dari website sekolah tersebut adalah: mendapatkan prospek calon murid sebanyak-banyaknya.

Dari tujuan ini, barulah kita masuk ke hal yang lebih teknis, yaitu rancangan strukturnya, desainnya, kontennya, sistemnya, hostingnya, dan sebagainya. Kemudian websitenya dibuat dengan paradigma ingin mencapai tujuan yang tadi ditetapkan itu.

Bagaimana cara mengukur indikator sukses dari setiap website?

Dengan contoh tujuan tadi, indikator suksesnya berarti jelas: jumlah data prospek yang masuk. Nah, bagaimana mengukurnya? Kalau cuma data prospek sih, tinggal dilihat berapa jumlah inquiry yang masuk lewat email.

Tapi semakin banyak prospek yang masuk, logikanya kan semakin banyak murid pula yang akan mendaftar. Nah, bagaimana supaya jumlah email inquiry bisa semakin bertambah? Apa yang harus diubah dari website kita?

Kita perlu alasan yang menjustifikasi mengapa harus bagian X atau Y di website kita yang harus diubah. Untuk hal ini, kita memerlukan tools (gratis) dari Google yang bernama Google Analytics.

Dengan Google Analytics, kita bisa mengetahui A-Z-nya apa yang terjadi di website kita. Bagaimana cara pengunjung datang, berasal dari daerah mana mereka, bagaimana performa isi website kita, dan sebagainya.

Hal yang paling penting adalah semua A-Z itu bisa dihubungkan dengan indikator utama tujuan website. Kita akan tahu, misalnya, “wah ternyata yang data dari Facebook lah yang paling banyak mengisi data prospek” sehingga kita harus fokus marketing di Facebook.

Atau misalnya “wah ternyata 95% pengunjung membaca isi website kita hanya sekilas saja, cuma 30 detik, pantas saja pengunjungnya banyak tapi yang isi data prospek hampir tidak ada,” berarti kita perlu mengubah konten agar pengunjung betah membacanya.

Dengan menggunakan Google Analytics, kita bisa menjustifikasi keputusan untuk mengoptimalkan website kita.

Di tulisan-tulisan berikutnya, insya Allah saya akan sharing lebih detail tentang apa saja tujuan website yang umumnya ada, serta bagaimana cara mengukurnya menggunakan Google Analytics.

Jadi, apakah website Anda sudah berjalan sesuai tujuannya? Atau bahkan belum punya tujuan yang jelas?


Photo Credit: European Parliament via Compfight cc


Jadi Sahabat Ilman Akbar

Personal sharing & insight saya tentang entrepreneurship, blogging & writing, pengembangan diri, serta teknologi Internet


Baca Ini Juga

Tags: , , , ,

One Response to “Supaya Website Tidak Terbengkalai Setelah Capek-capek Dibuat, Apa yang Harus Dipersiapkan?”

  1. JIM 6 June 2014 at 19:20 #

    wah, seorang web consultant ya ini?
    hebat, jadi dapat banyak pengetahun nih…

Leave a Reply

%d bloggers like this: